Daftar Isi

Hari Ini Aku Memilih Mengurungkan Langkah

Pagi ini aku sudah bersiap berangkat.

Peralatan kerja telah menunggu. Sepatu telah kupakai. Di dalam kepala, aku sudah membayangkan suara aliran sungai, dinginnya air yang menyentuh kaki, dan harapan bahwa hari ini mungkin akan membawa pulang rezeki untuk keluargaku.

Namun sebelum mesin dinyalakan, sebuah kabar datang.

"Ada razia tambang."

Kalimat yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat semangat yang sejak subuh kukumpulkan perlahan menghilang.

Aku hanya terdiam.

Bukan karena takut bekerja. Bukan pula karena malas mencari nafkah. Tetapi karena aku sadar, terkadang kenyataan memaksaku memilih antara tetap berangkat dengan segala risikonya atau mengalah demi menghindari sesuatu yang lebih buruk.

Sulit rasanya menjelaskan perasaan ini kepada orang yang tidak pernah menggantungkan hidup dari pekerjaan harian.

Saat kami tidak bekerja, tidak ada upah yang menunggu. Tidak ada gaji bulanan yang tetap masuk ke rekening. Hari ini tidak bekerja, berarti hari ini tidak ada penghasilan.

Sementara di rumah, ada anak-anak yang terus bertumbuh. Ada kebutuhan sekolah, susu, makanan, dan berbagai keperluan lain yang tidak pernah ikut berhenti hanya karena ayahnya gagal bekerja hari ini.

Di saat seperti ini, pikiranku kembali bertanya.

Bukankah tanah yang dimiliki dengan susah payah seharusnya memberikan hak untuk dikelola? Mengapa terkadang seseorang merasa begitu dekat dengan alam tempat ia berpijak, tetapi begitu jauh dari hak untuk memanfaatkannya?

Aku tahu persoalan ini tidak sesederhana hitam dan putih. Ada undang-undang, ada aturan, dan ada kepentingan yang harus dijaga. Namun sebagai orang kecil yang hanya ingin mencari nafkah dengan cara yang menurutku jujur, pertanyaan-pertanyaan itu tetap muncul di dalam hati.

Mungkin aku tidak selalu mengerti bagaimana hukum bekerja.

Yang aku mengerti hanyalah bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang setiap pagi memikirkan bagaimana cara membawa pulang rezeki.

Yang aku mengerti hanyalah bagaimana rasanya meninggalkan rumah demi keluarga, bekerja jauh dari istri dan anak-anak, lalu suatu pagi harus mengurungkan langkah karena keadaan yang berada di luar kendaliku.

Hari ini aku tidak marah.

Aku hanya kecewa.

Kecewa karena keinginan sederhana untuk bekerja terkadang terasa begitu sulit diwujudkan.

Meski begitu, hidup harus tetap berjalan.

Aku percaya, rezeki tidak selalu datang dari jalan yang kita rencanakan. Mungkin hari ini bukan harinya. Mungkin besok pintu itu akan kembali terbuka.

Sampai saat itu tiba, aku hanya bisa menyimpan peralatan, menghela napas panjang, lalu berkata kepada diri sendiri,

"Besok kita coba lagi."

Karena seorang ayah tidak selalu menang setiap hari.

Tetapi seorang ayah tidak boleh berhenti berjuang.
Artikel Sebelumnya Baca postingan ini