Bagian belakang kepalaku nyut-nyutan pelan, lalu dadaku terasa agak sesak setiap kali mencoba menarik napas dalam. Tidak terlalu hebat, tapi cukup membuatku berhenti sejenak dan berpikir.
Mungkin ini akumulasi lelah.
Mungkin juga pikiranku yang terlalu penuh akhir-akhir ini.
Atau tubuh ini hanya sedang berkata, “Berhenti dulu sebentar.”
Di usia 36 tahun, aku mulai sadar bahwa tubuh bukan mesin. Ia tidak selalu kuat menahan tekanan, panas, beban, dan kekhawatiran yang datang bersamaan. Kadang ia butuh didengar, bukan dipaksa.
Malam ini aku memilih duduk tenang. Menarik napas perlahan. Minum air hangat. Mengistirahatkan kepala dan hati.
Karena sekuat apa pun langkah seorang lelaki, ia tetap harus bijak menjaga dirinya sendiri.
Besok masih panjang.
Dan aku ingin tetap kuat — bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan.