Malam ini aku merenung cukup lama. Di sela-sela obrolan dengan beberapa orang, kembali terdengar kisah tentang seseorang yang diduga terkena pelet. Perubahan sikapnya begitu mencolok. Dulu ia dikenal tenang dan rasional, namun belakangan seperti kehilangan kendali atas perasaan dan pikirannya. Semua keputusan seolah hanya berputar pada satu orang.

Di kampung-kampung, cerita seperti ini sering muncul. Ada yang menyebutnya sihir pengasih, ada juga yang menamakannya pelet. Entah benar atau tidak, yang jelas keadaan seperti itu membuat banyak orang merasa gelisah dan bingung harus berbuat apa.

Aku teringat bahwa dalam ajaran agama, segala bentuk gangguan yang bersifat gaib tetap memiliki jalan untuk dihadapi. Bukan dengan balasan sihir, tetapi dengan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu cara yang sering dianjurkan adalah melalui ruqyah, yaitu pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa.

Metode ruqyah sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan keyakinan dan ketenangan hati.

Biasanya dimulai dengan memperbaiki niat. Orang yang diruqyah dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, kemudian duduk atau berbaring dengan tenang. Setelah itu dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Ayat-ayat tersebut dibaca dengan suara jelas, penuh keyakinan, lalu ditiupkan secara lembut ke telapak tangan atau ke air yang nantinya diminum oleh orang yang diruqyah.


Selain itu ada juga yang menambahkan bacaan dari surat Al-Baqarah, karena banyak ulama mengatakan bahwa rumah yang dibacakan surat tersebut akan dijauhkan dari gangguan setan.

Selama proses ruqyah, biasanya orang yang mengalami gangguan akan menunjukkan reaksi tertentu. Ada yang merasa pusing, mual, gelisah, bahkan menangis. Namun hal itu tidak selalu terjadi pada semua orang. Yang terpenting adalah menjaga ketenangan dan terus membaca doa perlindungan.

Proses penyembuhan juga tidak selalu instan. Kadang perlu dilakukan beberapa kali sambil memperbanyak ibadah, memperbaiki shalat, dan memperkuat dzikir. Karena sejatinya ruqyah bukan sekadar membaca ayat, tetapi juga usaha menguatkan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Dari semua kisah yang kudengar hari ini, aku semakin sadar bahwa manusia memang lemah jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Tetapi ketika kembali bersandar kepada Allah, selalu ada jalan keluar yang perlahan terbuka.

Malam semakin larut. Angin berhembus pelan di luar jendela. Aku menutup hari dengan satu keyakinan sederhana: 
tidak ada kekuatan yang lebih besar selain kekuatan doa dan keimanan yang tulus.