Sore ini badan rasanya seperti ditumbuk palu. Pemindahan peralatan tambang yang jaraknya tak bisa dibilang dekat, seolah menguji bukan cuma tenaga, tapi juga kesabaran. Tanjakan curam, turunan tajam, dan jalanan penuh pecahan batu menjadi “karpet merah” perjalanan hari ini—merahnya bukan karena kehormatan, tapi karena betis yang hampir kram.

Motor tua kesayangan, Honda Astrea Grand, yang sudah kuubah jadi semi trail, kembali membuktikan kesetiaannya. Beban di punggungnya mungkin lebih pantas dipikul mobil bak terbuka. 

Tapi ya begitulah, kadang yang setia memang bukan yang paling kuat, hanya yang paling tahan banting.

Ironisnya, di tengah perjuangan itu, bensin justru memilih menyerah lebih dulu. Habis di jalan. Seperti tahu sedang diuji, aku hanya bisa tersenyum kecut. Untung masih ada sisa minyak dari mesin penambang. Tak banyak, tapi cukup. Cukup untuk pulang. Cukup untuk menyelamatkan hari yang hampir jadi bahan lelucon semesta.

Hari ini aku belajar lagi—kadang yang membuat kita sampai bukan kelimpahan, tapi sisa. Sisa tenaga. Sisa bahan bakar. Sisa harapan. Dan dari sisa-sisa itulah perjalanan tetap berlanjut.

Besok? Entah tanjakan apa lagi yang menunggu. Tapi kalau motor tua itu masih mau hidup, dan kakiku masih mau menginjak tanah, perjalanan akan tetap diteruskan.